Pengalaman Cepu
Mahalnya Pengalaman Tragedi Cepu
Langkah pemerintah meningkatkan produksi minyak mendapatkan angin segar. Pemerintah merilis bahwa pada 10 Desember mendatang tahap awal dari produksi blok Cepu sudah mulai mengucur.
Tenggat ini sudah molor beberapa waktu sejak sebelumnya dipatok pada pertengahan 2008, kemudian September 2008. Namun dengan kondisi harga minyak yang terus turun hingga US$ 46 per barel menunjukkan bahwa blok migas yang disebut-sebut memiliki cadangan hingga 600 miliar barel ini benar-benar apes.
Di saat harga minyak sedang tinggi-tingginya mencapai US$ 140 per barel pemerintah, operator, dan masyarakat justru sibuk mengurai benang kusut eksplorasi yang tidak kunjung berakhir.
Mulai dari kasus rebutan operator antara ExxonMobil dengan Pertamina. Kemudian, antara operator dengan pemerintah daerah setempat. Belum lagi kasus spekulan tanah yang meresahkan masyarakat.
Kompleksitas tersebut yang menyebabkan berbagai pihak sempat pesimistis bahwa produksi minyak tersebut bakal dilakukan pada tahun ini. Apalagi bila melihat bahwa BP Migas juga masih mengutak-atik angka produksi optimal yang dimiliki oleh Cepu.
Dengan estimasi produksi maksimal yang mencapai 165 ribu per barel, ada syakwasangka bahwa produsen migas asal AS tersebut akan menyedot habis cadangan Cepu pada tahun-tahun awal produksi. Sehingga setelah kontrak selesai dalam termin 10-15 tahun, sudah kering juga sumur tua yang berhasil ditemukan dengan metode baru tersebut.
Sebelumnya, Kepala BP Migas, R Priyono dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR mengatakan, produksi awal direncanakan sebesar 500-1.000 barel per hari. “Produksi minyak akan diangkut menggunakan truk tangki,” katanya.
Dari hitungan kasar, perbedaan harga minyak dari US$ 140 per barel dengan US$ 46 per barel menunjukkan selisih yang cukup lebar. Katakanlah dengan selisih US$ 80 per barel, maka produksi awal yang bisa dilakukan bila produksi sesuai waktu bisa menambah jumlah pendapatan negara hingga US$ 80 ribu (sekitar Rp 800 juta) per barel.
Jumlah tersebut sama dengan kehilangan yang diperoleh bila penjualan minyak dilakukan kalau pemerintah menjualnya saat harga turun seperti saat ini. Apalagi bila dikemudian hari harga minyak tidak juga beranjak naik.
Sementara, pada Februari 2009, produksi minyak Cepu diperkirakan akan meningkat menjadi 20 ribu barel per hari setelah selesainya fasilitas produksi awal (early production). Jumlah yang bisa didapatkan oleh pemerintah kembali berlipat-lipat.
Optimisme produksi Cepu dijelaskan oleh Wakil Direktur Exxon Mobil Oil Indonesia, Maman Budiman. Dia mengatakan, pengangkutan 20 ribu barel per hari akan memakai pipa yang kini sedang dikerjakan. “Dari produksi 20 ribu barel per hari, sebanyak 10 ribu barel per hari di antaranya akan masuk ke fasilitas Pertamina dan 6 ribu barel per hari diproses di kilang mini,” imbuhnya.
Produksi puncak membutuhkan 34 sumur produksi, 13 sumur injeksi air, dua sumur injeksi air dan pipa berdiameter 20 inci sepanjang 95 km. Jumlah investasi yang dibutuhkan untuk itu mencapai US$ 2 miliar.
Oleh karena itu, berbagai pihak harus melakukan introspeksi terhadap mekanisme pengelolaan migas yang dimiliki. Suatu kontroversi dan keterlambatan produksi bisa berakibat pada kerugian negara yang demikian masif. Idealnya, ke depan, pemerintah bisa belajar untuk bersikap tegas demi kepentingan rakyat banyak.
sumber : inilah.com


